Jaksa Malas atau Ada Apa? Satreskrim unit III Polres Batang Antar Surat Tanpa Penjelasan” apa itu P-38

- Redaksi

Jumat, 17 Oktober 2025 - 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMASYARAKAT.COM//Batang – Sebuah ironi kembali terjadi dalam proses hukum di tanah air. Di tengah upaya membangun kepercayaan publik terhadap penegak hukum, Kejaksaan Negeri Batang justru memperlihatkan hal sebaliknya—meminta bantuan penyidik kepolisian untuk mengantar surat panggilan saksi, padahal saksi berada di wilayah hukumnya sendiri.

 

Lebih aneh lagi, surat tersebut adalah produk kejaksaan namun dikirim melalui penyidik Unit III Satreskrim Polres Batang, tanpa penjelasan apa pun kepada saksi soal status hukum mereka atau jenis surat yang dibawa. Hasilnya? Kebingungan, ketakutan, dan kecurigaan.

 

 

 

Peristiwa ini berawal dari pemanggilan dua saksi dalam perkara dugaan penipuan dan/atau penggelapan yang melibatkan seorang warga berinisial R. Kejaksaan Negeri Batang menerbitkan Surat Panggilan Saksi Nomor: B-270/M.3.40/Eoh.2/10/2025, dan—entah dengan logika hukum yang mana—meminta penyidik Polres Batang untuk mengantarkannya.

 

Padahal, kedua saksi:

• Beralamat jelas dan tetap di wilayah Batang,

• Kooperatif, tidak pernah mangkir dari proses hukum,

• Bukan buron, bukan tersangka, bukan pelaku.

 

Namun surat dari jaksa itu datang diantar polisi, tanpa sepatah kata pun penjelasan soal maksud dan konteks surat yang dibawa.

 

Tidak salah jika masyarakat bertanya: “Kenapa jaksa harus bersembunyi di balik polisi?”

Baca Juga :  Diduga Tak Kantongi Izin Resmi, Tambang Galian C di Jatirejo Kendal Tetap Beroperasi

 

 

 

 

Dalam dunia hukum, dikenal Surat P-38—surat resmi kejaksaan yang digunakan jika saksi berada di luar wilayah hukum kejaksaan. Surat ini dipakai untuk meminta bantuan aparat lain di luar yurisdiksi. Tapi faktanya, saksi dalam kasus ini berada dalam wilayah Kejari Batang sendiri.

 

Lantas, kenapa jaksa memakai P-38 seolah-olah saksi berada di luar jangkauan?

 

Kalau bukan karena tidak paham aturan, berarti ini bentuk kemalasan administratif atau bahkan penyalahgunaan prosedur untuk kepentingan tertentu.

 

 

 

 

 

Fungsi penyidik adalah menyidik, bukan menjadi kurir kejaksaan. Lebih parah lagi, penyidik yang datang tidak memberikan edukasi apa pun kepada saksi mengenai:

• Apa isi surat itu,

• Mengapa surat jaksa diantar polisi,

• Apa hak-hak saksi,

• Apakah status mereka berubah secara hukum.

 

Akibatnya, saksi mengira mereka sedang dikejar atau diperiksa ulang oleh polisi, padahal yang datang hanya surat panggilan biasa dari kejaksaan.

 

Bukannya memberikan rasa aman, penegak hukum malah menciptakan tekanan mental yang tidak perlu.

 

 

 

Saksi adalah bagian penting dalam proses peradilan. Tapi jika dipanggil dengan cara seperti ini, siapa yang tidak takut?

Baca Juga :  Sebanyak 590 Warga Kehilangan Tabungan Hari Raya, Dugaan Penyelewengan Dana Mengemuka di Pekalongan

 

Polisi semestinya menjelaskan, bukan diam. Jaksa semestinya profesional, bukan melempar tugas. Penegak hukum seharusnya menjadi contoh kedisiplinan prosedural, bukan aktor pelanggar aturan.

 

“Jangan sampai masyarakat belajar hukum dari rasa takut, padahal tugas aparat adalah memberikan rasa aman dan kepastian.”

 

 

 

Fungsi Sesuai Tupoksi

 

Kejaksaan tidak seharusnya melepas tanggung jawab administratifnya. Dan polisi tidak semestinya ikut bermain dalam urusan penuntutan pasca-P21.

 

Sebagai pengingat:

• Pasal 139 KUHAP menyatakan bahwa setelah P-21, proses hukum sepenuhnya menjadi kewenangan jaksa.

• Pasal 17 UU No. 30 Tahun 2014 melarang penyalahgunaan wewenang.

• Pasal 421 KUHP menjerat pejabat yang memaksa warga dengan kekuasaan tanpa dasar hukum.

 

 

 

Jika aparat penegak hukum sudah mulai menggampangkan prosedur sekecil pemanggilan saksi, lalu siapa yang bisa menjamin kejujuran dalam tahap-tahap berikutnya?

 

Masyarakat tidak butuh aparat yang hebat dalam membentuk opini, tapi yang konsisten menjalankan tugas sesuai hukum, etika, dan tanggung jawab institusional.

 

Kalau hukum dijalankan lewat jalur tidak resmi, lewat titipan, lewat jalur belakang, maka hukum itu sendiri kehilangan wibawanya.

 

 

 

📝 Redaksi SuaraMasyarakat

Berita Terkait

Tri Septa BA, SH Sikapi Pernyataan Wakapolres dan Wabup Buol Terkait Dugaan PETI di Paleleh Barat
Kuasa Hukum Kodirin Adukan Polres Tapin ke Komisi III, Minta Usut Tuntas Dugaan Pelanggaran Kasat Reskrim
Kapolres Tapin Dilaporkan ke Propam Mabes Polri, Kuasa Hukum Kodirin Soroti Pernyataan soal Produk Regulator SNI
PERLAWANAN KUASA HUKUM MENGUAT! TEMUKAN FAKTA BARU SOAL SNI, OWNER REGULATOR DAN PERALATAN SIAP BUKA FAKTA PERKARA POLRES TAPIN
Bawa Sertifikat SNI, Kuasa Hukum Siap Ungkap Fakta di Balik Pernyataan Polres Tapin soal Selang LPG
Di Balik Pengungkapan Kasus Minyak Goreng, Polres Tapin Dihantam Dugaan Penyiksaan; Kuasa Hukum: “Kami Akan Lawan Sampai Tuntas
Kuasa Hukum Tantang Oknum Dinas Sosial di PPS Wanodyatama Surakarta: Negara Hukum Tidak Tunduk pada Tafsir Pejabat
FPRM Minta Pembunuh PMI Warga Aceh di Sepang, Selangor, Malaysia Dihukum Berat
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Tri Septa BA, SH Sikapi Pernyataan Wakapolres dan Wabup Buol Terkait Dugaan PETI di Paleleh Barat

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:50 WIB

Kuasa Hukum Kodirin Adukan Polres Tapin ke Komisi III, Minta Usut Tuntas Dugaan Pelanggaran Kasat Reskrim

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:32 WIB

Kapolres Tapin Dilaporkan ke Propam Mabes Polri, Kuasa Hukum Kodirin Soroti Pernyataan soal Produk Regulator SNI

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:10 WIB

PERLAWANAN KUASA HUKUM MENGUAT! TEMUKAN FAKTA BARU SOAL SNI, OWNER REGULATOR DAN PERALATAN SIAP BUKA FAKTA PERKARA POLRES TAPIN

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:50 WIB

Bawa Sertifikat SNI, Kuasa Hukum Siap Ungkap Fakta di Balik Pernyataan Polres Tapin soal Selang LPG

Berita Terbaru