PALEMBANG | suaramasyarakat.com — Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru menyoroti kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatera Selatan yang membutuhkan perhatian serius. Dari 42 sungai utama yang menjadi urat nadi transportasi dan perekonomian daerah, tiga sungai ditetapkan sebagai prioritas penanganan dan rehabilitasi, yakni Sungai Musi, Sungai Lematang, dan Sungai Lalan.
Hal tersebut disampaikan Herman Deru dalam kegiatan terkait Pengelolaan DAS dan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di Hotel Beston Palembang, Selasa (27/10/2026).
Menurut Herman Deru, sungai memiliki peran strategis bagi perekonomian Sumatera Selatan, terutama sebagai jalur transportasi berbagai komoditas ekspor menuju laut. Karena itu, kerusakan sungai akibat sedimentasi maupun pencemaran dapat berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat dan kelancaran distribusi barang.
“Sungai itu urat nadi kedua transportasi Sumsel. Mayoritas komoditas ekspor kita diangkut lewat jalur air menuju laut. Kalau sungai rusak, ekonomi Sumsel lumpuh,” tegas Herman Deru.
Ia menjelaskan, meskipun hingga akhir 2026 jalur ekspor melalui sungai masih berjalan lancar dan belum dilaporkan adanya kapal kandas, ancaman sedimentasi tetap harus diantisipasi. Upaya pemeliharaan lingkungan dan pengerukan atau dredging dinilai penting untuk menjaga kedalaman alur pelayaran serta keberlanjutan fungsi sungai.
Pencemaran Merkuri Ancam Ekosistem Sungai
Selain persoalan sedimentasi, Herman Deru mengungkapkan kondisi memprihatinkan di Desa Macang Sakti. Sungai di kawasan tersebut disebut telah tercemar merkuri yang diduga berasal dari aktivitas pertambangan ilegal yang tidak terkendali.
Pencemaran tersebut berdampak serius terhadap lingkungan. Sungai dilaporkan tidak lagi layak digunakan masyarakat untuk mandi, mencuci, dan kakus (MCK). Bahkan, sejumlah flora dan fauna endemik disebut mengalami kematian akibat kerusakan ekosistem.
Kondisi ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan DAS tidak cukup hanya berfokus pada penanganan banjir dan sedimentasi, tetapi juga harus mencakup pengendalian pencemaran serta penindakan terhadap aktivitas yang merusak lingkungan.
Untuk itu, Gubernur meminta Forum Daerah Aliran Sungai (Forum DAS), Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta mahasiswa memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian sungai.
Ia juga menekankan pentingnya memilih kepengurusan Forum DAS yang memiliki dedikasi dan komitmen nyata, sehingga keberadaannya tidak sekadar formalitas, tetapi mampu mendorong tindakan konkret dalam pemulihan lingkungan.
Modifikasi Cuaca Dilakukan Lebih dari 80 Kali
Dalam menghadapi musim hujan dengan potensi curah hujan tinggi, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga memperkuat langkah mitigasi bencana hidrometeorologi, terutama untuk mengantisipasi banjir.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Hercules dengan bahan semai berupa garam atau natrium klorida (NaCl). Berdasarkan keterangan Gubernur, operasi tersebut telah dilaksanakan lebih dari 80 kali, termasuk dua penerbangan yang dilakukan pada hari penyampaian keterangan tersebut melalui koordinasi dengan Kepala Dinas Operasi Lanud.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bencana akibat kondisi cuaca ekstrem. Namun, mitigasi cuaca juga perlu didukung kesiapan infrastruktur drainase, pengelolaan DAS, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Selain itu, Herman Deru menyampaikan bahwa bantuan dana pascabanjir senilai Rp100 miliar dari pemerintah pusat telah disalurkan untuk 10 kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Sementara itu, Pagar Alam, Lubuklinggau, dan Muara Enim disebut belum menerima bantuan tersebut.
Gubernur juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana serta menjaga kebersihan sungai dan saluran pembuangan air agar tidak tersumbat oleh sampah.
Pemkot Palembang Benahi Saluran Air
Upaya mengantisipasi banjir juga dilakukan Pemerintah Kota Palembang. Salah satunya melalui pengerjaan crossing gorong-gorong dan saluran drainase di kawasan Angkatan 45.
Pekerjaan tersebut diharapkan dapat membantu memperlancar aliran air dan mengurangi risiko genangan saat hujan deras. Meski berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas selama proses pengerjaan, perbaikan infrastruktur drainase dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas saluran air perkotaan.
Herman Deru menegaskan, penanganan banjir dan pemulihan sungai membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga terkait, komunitas lingkungan, dan masyarakat.
Pelestarian sungai harus menjadi tanggung jawab bersama karena keberadaan sungai berkaitan erat dengan keselamatan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan perekonomian Sumatera Selatan.
“Sungai selamat, Sumsel selamat,” pungkasnya.






