Kasus Penggelapan 20 Ton Beras Anak Yatim, Polisi Serukan Pentingnya Kejujuran dan Tanggung Jawab

- Redaksi

Senin, 8 September 2025 - 17:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Palu, Sulteng — SuaraMasyarakat.com // Kasus penggelapan bantuan sosial kembali mencoreng rasa kemanusiaan di Sulawesi Tengah. Hampir 20 ton beras sumbangan untuk ribuan anak yatim raib digondol seorang oknum yang memanfaatkan kepercayaan lembaga amal.

Pelaku berinisial M.A. (45), warga BTN Korpri Kawatuna, ditangkap Tim Resmob Tadulako Polresta Palu yang dipimpin Kanit Jatanras IPTU Erics Iskandar, S.H., Sabtu malam (6/9/2025). Polisi menemukan barang bukti berupa 5 kilogram beras dan sebuah televisi 24 inci. Namun, hasil penyelidikan mengungkap jumlah beras yang sudah digelapkan mencapai 11.300 kilogram atau setara hampir 20 ton.

Baca Juga :  Hoegeng Awards 2025 Jadi Inspirasi, Orang Tua Siswa Puji Kepemimpinan Ka SPN Kombes Seminar Sebayang

Seluruh beras itu merupakan amanah donatur melalui Laz Baitulmaal Munzalan Indonesia untuk anak yatim di Sulawesi Tengah.

“Pelaku mengaku melakukan pencurian bertahap dengan memanfaatkan posisinya di lingkungan lembaga tersebut,” jelas IPTU Erics.

Kapolresta Palu, Kombes Pol. Deny Abrahams, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan pihaknya akan menindak tegas setiap bentuk pengkhianatan amanah publik.

“Mengambil hak kaum miskin dan anak yatim bukan hanya tindak pidana, tapi juga pengkhianatan moral. Polisi tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menjaga nilai kepercayaan masyarakat. Kasus ini akan dikembangkan hingga tuntas,” tegas Deny.

Baca Juga :  Dalam 3 Jam, 5 Ton Beras SPHP Habis Terjual Pada GPM di Polsek Simpang Jernih

Kasus ini menjadi peringatan penting bahwa amanah adalah titipan yang wajib dijaga. Mengkhianatinya berarti mengkhianati doa dan harapan anak-anak yang semestinya tersenyum menerima bantuan.

Bagi masyarakat, peristiwa ini diharapkan bisa menjadi cermin bahwa kejujuran dan tanggung jawab adalah fondasi utama dalam kehidupan sosial.

Kini M.A. harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji, sementara polisi mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. Publik pun berharap kasus ini menjadi pembelajaran agar praktik penyelewengan bantuan sosial tidak terulang.*

Reporter : Yudha
Sumber: Sisi Sulteng

Berita Terkait

Tanpa Papan Proyek dan Pengawas, Pembangunan Talud di Jalan Raya Belimbing Kuranji Tersorot Publik
Polda Sumsel Tangani 63 Perkara Karhutla, 54 Orang Jadi Tersangka
Guru SMPN 4 Pekalongan Akui Jewer Siswa, ROBINHOOD 23 Minta Kasus Tak Berhenti di Sanksi Sekolah
LAPPAS-RI Adukan Inspektorat Kabupaten Pekalongan ke Ombudsman
Dugaan Pelanggaran Aturan dan Terkesan Cacat Hukum di Pilchiksung Desa Banda Masen Lhokseumawe
Keluhan Pemasok PT PAR: Oknum Brimob Diduga Lakukan Penyutiran TBS, Kuat Dugaan Manajer Terlibat
Oknum Polisi Diduga Tampung Sawit Hasil Curian di Terminal Meudang Ara
Harga Elpiji 3 Kg di Kota Palu Diduga Tak Sesuai HET, Peran Pengawasan APH Jadi Tanda Tanya Publik
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Tanpa Papan Proyek dan Pengawas, Pembangunan Talud di Jalan Raya Belimbing Kuranji Tersorot Publik

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Polda Sumsel Tangani 63 Perkara Karhutla, 54 Orang Jadi Tersangka

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:48 WIB

Guru SMPN 4 Pekalongan Akui Jewer Siswa, ROBINHOOD 23 Minta Kasus Tak Berhenti di Sanksi Sekolah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:51 WIB

LAPPAS-RI Adukan Inspektorat Kabupaten Pekalongan ke Ombudsman

Minggu, 20 September 2026 - 23:04 WIB

Dugaan Pelanggaran Aturan dan Terkesan Cacat Hukum di Pilchiksung Desa Banda Masen Lhokseumawe

Berita Terbaru