Kasus BLT-DD di Meunje Peut, Direktur FPRM: Diduga Konspirasi Pungli Berjamaah Pemdes

- Redaksi

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

Oplus_16908288

Aceh Utara – SuaraMasyarakat.com // Dugaan praktik pemotongan bantuan langsung tunai (BLT) sumber dana desa (DD) di Desa atau Gampong Meunje Peut Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara tahun 2025 diduga upaya konspirasi bersama (berjamaah) pihak Pemdes dan badan Permusyawaratan desa (BPD) atau Tuha Peut.

Fakta dugaan tersebut didasari pengakuan dan keterangan langsung oleh Kepala Desa (Kades) atau Keuchik Meunje Peut, Asnawi saat dikonfirmasi oleh tim wartawan pada Senin (02/02/26) sore di Masjid desa setempat.

Hal tersebut kata Direktur Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM), Nasruddin, S.E., sesuai pernyataan kepala desa (Kades) atau Keuchik Meunje Peut, Asnawi dipemberitaan sebelumnya dari hasil konfirmasi tim wartawan pada Senin (02/02)26).

“Dugaan pelanggaran hukum mengarah pada dugaan Pungli mengarah pada tindak pidana korupsi (Tipikor) sesuai diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 31 tahun 1999, perubahan atas UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi,” ujar Nasruddin, S.E., kepada media pada Selasa (03/02/26).

Melalui rilisnya, Direktur FPRM, Nasruddin menjelaskan, tindakan dan perbuatan pihak pemerintah desa (Pemdes) dan Tuha Peut ikut terlibat dalam musyawarah disampaikan dari pengakuan Keuchik Asnawi jelas merupakan upaya disinyalir melawan hukum, dimana mereka bersekongkol memutuskan pengambilan kebijakan dugaan pemotongan BLT- DD dari penerima telah ditetapkan pemerintah.

Baca Juga :  BNNP Sumsel Musnahkan 16,9 Kg Sabu Jaringan Internasional Malaysia–Palembang

“Mereka pihak Pemdes Meunye Peut dan Tuha Peut terkesan sangat berani membuat konspirasi bersama (bersepakat) memotong hak penerima BLT-DD dan membagikan kepada orang lain diluar daftar penerima tetap, aturan jelas menyebutkan itu Pungli,” jelas Direktur FPRM.

Nasruddin menilai, aturan hukum mengikat terkait petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis (Juklak dan Juknis) tetap BLT-DD tidak ada kompromi dengan kebijakan dari pihak pejabat ditingkat desa hingga tingkat provinsi sekalipun, karena itu urusannya dengan aparat penegak hukum (APH).

Ia mengulang kembali paparan, “Arahan Kementerian Desa pembangunan daerah tertinggal dan transigrasi (Mendes PDTT) secara tegas melarang pejabat desa atau petugas memotong BLT-DD karena mekanisme penyaluran diawasi ketat dan transparan.
Prinsip Penyaluran,” terang Direktur FPRM.

Sambungnya, BLT-DD harus disalurkan secara tunai atau non-tunai langsung kepada penerima, dan tidak boleh ada biaya tambahan, dan sanksi Pidana bagi Pelaku Pemotongan, baik kepala desa, perangkat desa, maupun pihak lain, dapat dijerat dengan:
UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi:

Baca Juga :  PAW Tuha Peut Desa Meunye Peut Diduga Cacat Hukum, Berpotensi Maladministrasi (1)

“Tindakan pemotongan/pungli BLT dianggap sebagai tindak pidana korupsi, pada Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan, dan Penyalahgunaan atau penggelapan uang bantuan. Serta Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan, Jika ada unsur pemaksaan dalam pemotongan bantuan,” ungkap Direktur FPRM.

Terakhir, “Sanksi Administratif, oknum perangkat desa atau kepala desa yang terbukti melakukan pungli dapat diberhentikan sementara atau permanen,” tambah Direktur FPRM.

Serta Pemotongan Dana Desa, yakni bagi desa yang tidak melaksanakan BLT-DD sesuai aturan atau melakukan penyalahgunaan dapat dikenakan sanksi pemotongan Dana Desa tahap berikutnya.

Besarkan uraian ini, Direktur FPRM meminta kepada aparat penegak hukum (APH) menjadikan acuan dasar guna memproses hukum dugaan Pungli berjamaah oleh Pemdes Meunye Peut dan Tuha Peut ikut terlibat dalam musyawarah terkait kebijakan pemotongan BLT-DD tersebut.**

Reporter : SurPa

Berita Terkait

Produsen Belum Dipanggil, Kuasa Hukum Kodirin Pertanyakan: Kalau Tidak SNI, Dasarnya Apa?
Pabrik Produksi Belum Dipanggil, Kuasa Hukum Pertanyakan Klaim Produk Tidak SNI di Polres Tapin
Kuasa Hukum Kodirin Adukan Polres Tapin ke Komisi III, Minta Usut Tuntas Dugaan Pelanggaran Kasat Reskrim
Kapolres Tapin Dilaporkan ke Propam Mabes Polri, Kuasa Hukum Kodirin Soroti Pernyataan soal Produk Regulator SNI
PERLAWANAN KUASA HUKUM MENGUAT! TEMUKAN FAKTA BARU SOAL SNI, OWNER REGULATOR DAN PERALATAN SIAP BUKA FAKTA PERKARA POLRES TAPIN
Bawa Sertifikat SNI, Kuasa Hukum Siap Ungkap Fakta di Balik Pernyataan Polres Tapin soal Selang LPG
Kuasa Hukum Kritik Polres Tapin, Berani Buka Rekaman CCTV di Hadapan Pimpinan Polda Kalsel?
REKAMAN PEMERIKSAAN JADI TARUHAN: KUASA HUKUM TANTANG POLRES TAPIN BUKA VIDEO PEMERIKSAAN TERSANGKA
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:57 WIB

Produsen Belum Dipanggil, Kuasa Hukum Kodirin Pertanyakan: Kalau Tidak SNI, Dasarnya Apa?

Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:26 WIB

Pabrik Produksi Belum Dipanggil, Kuasa Hukum Pertanyakan Klaim Produk Tidak SNI di Polres Tapin

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:50 WIB

Kuasa Hukum Kodirin Adukan Polres Tapin ke Komisi III, Minta Usut Tuntas Dugaan Pelanggaran Kasat Reskrim

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:32 WIB

Kapolres Tapin Dilaporkan ke Propam Mabes Polri, Kuasa Hukum Kodirin Soroti Pernyataan soal Produk Regulator SNI

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:10 WIB

PERLAWANAN KUASA HUKUM MENGUAT! TEMUKAN FAKTA BARU SOAL SNI, OWNER REGULATOR DAN PERALATAN SIAP BUKA FAKTA PERKARA POLRES TAPIN

Berita Terbaru