Dapur Makan Bergizi Gratis Jadi Mesin Ketahanan Pangan dan Peningkatan SDM Indonesia

- Redaksi

Jumat, 7 November 2025 - 22:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SUARAMASYARAKAT.COM//Dalam dialog interaktif Merajut Pangan Bumi Gora di RRI Mataram, Jumat (7/11/2025), Sekretaris Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Kombes Pol. Lalu Muhammad Iwan Mahardan, S.I.K., M.M., menegaskan bahwa program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Melalui tema “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Dapur Makan Bergizi Gratis”, dialog tersebut menyoroti pentingnya keterkaitan antara produksi pangan lokal, pemberdayaan petani, dan upaya penurunan stunting. Kombes Lalu Iwan menekankan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar soal ketersediaan bahan pangan, melainkan juga mencakup akses, keterjangkauan harga, pemanfaatan gizi, serta stabilitas pasokan.

Baca Juga :  Kapolres Nagan Raya Tidak Sigap Tanggapi Laporan Masyarakat Terkait Mobil Warga Kuala Dirampas Leasing

 

Ia menjelaskan empat indikator utama ketahanan pangan yang sejalan dengan UU Nomor 18 Tahun 2012 dan Perpres Nomor 66 Tahun 2021, serta menegaskan bahwa pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai program strategis nasional untuk menghadapi tantangan global, iklim, dan ekonomi.

 

Menurutnya, program MBG dan sinergi lintas sektor kini telah berjalan di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjadi contoh sukses pemanfaatan pangan lokal. Komoditas seperti jagung, ikan, sayur, telur, sorgum, dan buah lokal dimanfaatkan sebagai bahan baku menu harian MBG, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan pelaku UMKM daerah.

Baca Juga :  Hujan Deras Sebabkan Banjir Setinggi Lutut di Desa Tengeng, Sejumlah Rumah Warga Tergenang.

 

Kombes Lalu Iwan juga mengingatkan bahwa ketahanan pangan erat kaitannya dengan masalah gizi nasional — mulai dari stunting, anemia remaja putri, hingga obesitas — yang berdampak langsung pada produktivitas dan daya saing bangsa.

 

> “Kalau satu pilar ketahanan pangan lemah, maka risiko gizi buruk meningkat. Dampaknya langsung ke produktivitas dan daya saing bangsa,” tegasnya.

 

 

 

Dengan demikian, program MBG bukan hanya upaya pemenuhan pangan bergizi, tetapi juga menjadi penghubung antara petani dan pemenuhan gizi masyarakat, menciptakan siklus ekonomi sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

 

Berita Terkait

Tanpa Papan Proyek dan Pengawas, Pembangunan Talud di Jalan Raya Belimbing Kuranji Tersorot Publik
Polda Sumsel Tangani 63 Perkara Karhutla, 54 Orang Jadi Tersangka
Guru SMPN 4 Pekalongan Akui Jewer Siswa, ROBINHOOD 23 Minta Kasus Tak Berhenti di Sanksi Sekolah
LAPPAS-RI Adukan Inspektorat Kabupaten Pekalongan ke Ombudsman
Dugaan Pelanggaran Aturan dan Terkesan Cacat Hukum di Pilchiksung Desa Banda Masen Lhokseumawe
Keluhan Pemasok PT PAR: Oknum Brimob Diduga Lakukan Penyutiran TBS, Kuat Dugaan Manajer Terlibat
Oknum Polisi Diduga Tampung Sawit Hasil Curian di Terminal Meudang Ara
Harga Elpiji 3 Kg di Kota Palu Diduga Tak Sesuai HET, Peran Pengawasan APH Jadi Tanda Tanya Publik
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Tanpa Papan Proyek dan Pengawas, Pembangunan Talud di Jalan Raya Belimbing Kuranji Tersorot Publik

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Polda Sumsel Tangani 63 Perkara Karhutla, 54 Orang Jadi Tersangka

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:48 WIB

Guru SMPN 4 Pekalongan Akui Jewer Siswa, ROBINHOOD 23 Minta Kasus Tak Berhenti di Sanksi Sekolah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:51 WIB

LAPPAS-RI Adukan Inspektorat Kabupaten Pekalongan ke Ombudsman

Minggu, 20 September 2026 - 23:04 WIB

Dugaan Pelanggaran Aturan dan Terkesan Cacat Hukum di Pilchiksung Desa Banda Masen Lhokseumawe

Berita Terbaru