Aceh Tengah – SuaraMasyarakat.com //Puluhan warga Kecamatan Ketol datangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah, Selasa (03/03/26) tuntut penanganan lubang raksasa dan longsor di kawasan Pondok Balik hingga kini belum terselesaikan.
Aksi berlangsung di halaman gedung parlemen wakil rakyat, bersamaan dengan audiensi relaksasi kredit MCF dan FIF di ruang sidang.
Massa menilai penanganan bencana lamban dan dipenuhi janji tanpa realisasi. Lubang besar yang mengancam jalan, lahan pertanian, bahkan rumah warga, belum ditangani tuntas. Jalan alternatif pun belum tersedia, membuat beberapa kampung masih terisolasi dan aktivitas warga lumpuh.
“Janji-janji sudah sering kami dengar, tapi tidak ada yang beres. Sampai hari ini jalan alternatif pun belum ada,” ujar Agusdianto, warga setempat.
Kondisi di Pondok Balik bukan sekadar soal akses transportasi, tapi juga keselamatan warga terancam. Beberapa kampung disebut perlu direlokasi menyusul bencana hidrometeorologi akhir 2025 lalu.
Warga mendesak seluruh anggota DPRK hadir, namun belum satu pun legislator muncul, meski informasi bencana telah tersebar hingga media internasional.
“Kami minta semua anggota DPRK hadir. Jangan hanya diam di balik ruangan!” teriak Agusdianto.
Seorang warga menegaskan, jika penanganan tidak segera dilakukan, mereka siap pindah ke Bener Meriah. “Pemkab kami lemah, dewan kami lemah. Kami bayar retribusi dari hasil pertanian, tapi dibiarkan. Berapa lagi korban jiwa yang harus menunggu?” tegasnya.
Ironisnya, Kecamatan Ketol merupakan salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar Kabupaten Aceh Tengah dari sektor pertanian, namun perhatian pemerintah belum sebanding dengan kontribusi warga.
Audiensi akhirnya direspon dengan hadirnya Ketua DPRK Fitriana Mugie, Wakil Ketua Hamdan, serta anggota DPRK Fauzan, Azhari, dan Kasman.
Dari pihak eksekutif hadir Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah Andalika, Kadis PUPR Pijas Visara, dan Kadis Perkim Iwan Januari.
Meski demikian, warga tetap menuntut kehadiran Bupati Haili Yoga, Wakil Bupati Muchsin Hasan, dan Sekda Mursyid untuk memastikan ada keputusan nyata menyelamatkan kampung mereka.*
Reporter : SiGe






