Tolitoli, Sulteng — suaramasyarakat.com // Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) disebut turut memberikan dampak terhadap sejumlah pelaku usaha kayu di Kabupaten Tolitoli. Salah satu dampaknya adalah semakin sulitnya memperoleh bahan baku kayu yang tersedia di wilayah tersebut.
Kondisi itu disampaikan Kadek, yang mewakili pemilik industri kayu, Elvis, saat ditemui media ini di salah satu usaha somel di Buntuna, Kabupaten Tolitoli, Rabu (20/8/2026).
Menurutnya, ketersediaan kayu saat ini tidak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat pelaku industri kayu harus menyesuaikan kegiatan usahanya dengan ketersediaan bahan baku.
Ia mengatakan, pihaknya kini lebih banyak berharap pada jasa pengolahan kayu yang berasal dari kebun milik masyarakat.
“Sekarang tinggal kayunya rakyat saja yang diolah dari kebun rakyat,” ujarnya kepada media ini.
Kadek juga mengungkapkan adanya kendala dalam proses pengiriman kayu untuk kebutuhan ekspor. Menurutnya, kontainer yang digunakan untuk pengiriman kayu terkadang harus bermalam hingga sekitar 10 hari.
“Itu sudah menjadi kendala kami lama di ekspor, karena waktu yang diberikan oleh perusahaan kontainer memang membutuhkan waktu,” katanya.
Meski menghadapi kendala dalam ketersediaan bahan baku dan proses pengiriman, ia menyebut persoalan bahan bakar minyak (BBM) sejauh ini tidak menjadi masalah bagi kegiatan usaha mereka.
“Untuk BBM tidak ada permasalahan. Semua berjalan lancar dan baik, yang penting usaha masih tetap berjalan,” ujarnya.
Ia berharap kondisi ketersediaan bahan baku kayu dapat menjadi perhatian sehingga industri pengolahan kayu di Kabupaten Tolitoli tetap dapat menjalankan aktivitas usahanya.*
Yuda






