PEKALONGAN-suaramasyarakat.com Seorang guru di pelosok Petungkriyono ini patut mendapat apresiasi. Demi bisa mengajar di sekolah dasar tempatnya mengabdi, ia harus melewati jembatan darurat dari bambu yang kondisinya kini sudah mulai rusak.
Jembatan tersebut berada di Dukuh Wonodadi, wilayah yang sempat terdampak bencana banjir dan longsor pada Januari lalu. Akibat bencana itu, jembatan utama hilang tersapu arus. Sebagai solusi darurat, warga bersama relawan membangun jembatan bambu agar akses ke dusun tetap bisa dilalui.
Namun seiring waktu, kondisi jembatan semakin mengkhawatirkan. Beberapa batang bambu mulai renggang, dan berisiko rapuh karena terus-menerus terkena panas dan hujan. Tak jarang, sang guru harus merapatkan dan memperbaiki sendiri bambu-bambu yang longgar, agar jembatan tetap bisa dilewati, baik oleh pejalan kaki maupun kendaraan roda dua.
Kisah ini menjadi potret nyata semangat pengabdian, di tengah keterbatasan infrastruktur yang masih harus diperjuangkan bersama.

