Bener Meriah, Aceh — SuaraMasyarakat com // Rasa kecewa terhadap lambannya penanganan akses jalan lintas nasional (Jalinnas) Takengon–Bireuen akhirnya membuat masyarakat Kecamatan Pintu Rime Gayo (PRG), Kabupaten Bener Meriah, turun tangan sendiri membersihkan material longsor di kawasan Enang-Enang.
Sudah enam bulan sejak banjir bandang menerjang dan memutus jalur vital penghubung Aceh Tengah dengan pesisir utara Aceh itu, namun hingga kini akses utama belum juga normal, Jum’at (29/05/26).
Kondisi tersebut mendorong warga menyewa satu unit alat berat secara swadaya untuk membuka kembali badan jalan yang tertutup longsor.
Aksi gotong royong masyarakat itu mulai dilakukan sejak Selasa (26/5/2026), dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, aparatur kecamatan, hingga personel TNI dan Polri di wilayah setempat.
Selama jalur utama lumpuh, kendaraan dari arah Takengon maupun Bireuen terpaksa dialihkan melalui jalan alternatif Simpang Lancang–Wih Porak.
Namun jalur tersebut dinilai jauh dari layak karena sempit, rusak, dan sering menyebabkan antrean panjang kendaraan.
“Sudah terlalu lama masyarakat menunggu. Jalan alternatif tidak memadai, kendaraan bisa berjam-jam antre,” kata Syahrial, mantan Mukim Pintu Rime Gayo memimpin aksi pembukaan jalan tersebut dalam video yang diunggah akun Facebook Qadri.
Video itu pun mendapat perhatian luas masyarakat dan telah ditonton lebih dari 63 ribu kali.
Dalam video tersebut, Syahrial menjelaskan biaya pembersihan longsor murni berasal dari swadaya masyarakat. Warga bergotong royong mengumpulkan dana, termasuk bantuan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional alat berat.
“Ada yang membantu uang, ada yang menyumbang BBM untuk alat berat. Alhamdulillah dengan izin Allah,” ujarnya.
Menurut Syahrial, terdapat sedikitnya empat titik longsor yang menutup badan jalan menuju Jembatan Enang-Enang. Dua titik berada dari arah Takengon dan dua lainnya dari arah Bireuen.
Meski kondisi Jembatan Enang-Enang masih putus akibat banjir bandang akhir 2025 lalu, warga optimistis akses tersebut dapat segera difungsikan minimal untuk kendaraan roda dua.
“Target kami tiga sampai empat hari ini kendaraan roda dua sudah bisa melintas,” katanya.
Bahkan, masyarakat juga berencana melakukan penimbunan di ujung jembatan agar nantinya kendaraan roda empat dapat ikut melintas sementara waktu.
“Nantinya kami coba timbun ujung jembatan supaya mobil juga bisa lewat,” tambahnya.
Dalam rekaman video itu, warga lainnya turut menyoroti lambannya penanganan pemerintah terhadap kerusakan akses di kawasan Enang-Enang.
Menurut mereka, perbaikan jalur sementara sebenarnya tidak membutuhkan biaya besar apabila ditangani secara serius sejak awal.
“Kecuali membangun jembatan permanen memang membutuhkan biaya besar,” ujar seorang warga.
Sebelumnya, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh memutuskan membangun jalur alternatif melalui jembatan Wih Porak dari arah Wer Lah menuju Simpang Lancang sebagai akses sementara penghubung Takengon-Bireuen atau sebaliknya.
Pelaksana tugas Kepala Dinas (Plt. Kadis) Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PU Perkim) Kabupaten Bener Meriah, Alfahmi mengatakan, pembangunan jembatan alternatif itu segera dilakukan setelah persoalan lahan selesai.
“Mereka hanya memastikan lahannya tidak bermasalah karena statusnya jalan kabupaten,” kata Alfahmi, Rabu, (08/04/26) lalu kepada media AJNN.
Sementara pembangunan permanen jembatan Enang-enang, sambung Alfahmi, baru dijadwalkan pada tahun 2027 berdasarkan hasil rapat BPJN dengan Kementrian PUPR di Banda Aceh.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan masyarakat, warga menilai pemerintah terlalu lama membiarkan akses utama jalan lintas masyarakat lumpuh hingga akhirnya masyarakat harus bergerak sendiri membuka jalan nasional yang tertimbun longsor.*
Reporter : SiGe






