PEKALONGAN.-suaramasyarakat.com.//Lagi, permasalahan koperasi berlabel BMT terjadi di wilayah Kabupaten Pekalongan. Tak tanggung-tanggung, kali ini ratusan nasabah di wilayah kecamatan Kesesi menjadi korbannya, dengan dugaan kerugian mencapai 1,2 milyar rupiah.
Jumat malam, belasan perwakilan nasabah BMT tersebut mendatangi kantor LBH Adhyaksa kota Pekalongan, untuk meminta pendampingan.
Salah satu nasabah, Yuli (32 tahun) mengungkapkan, ada sekitar 117 orang nasabah yang mengikuti program simpanan idul fitri, atau Safitri.
“Perminggu kita membayar iuran, ada yang 50 ribu, ada juga yang 100 ribu. Dari nasabah juga ada yang punya anggota, sehingga total kerugian kami di simpanan Safitri mencapai 653 juta rupiah”, paparnya.
Yuli menyebutkan, seharusnya tabungan Safitri tersebut dicairkan sebelum lebaran bulan Februari 2025 kemarin. Namun kenyataannya, hingga kantor BMT tersebut tutup, hak para nasabah tak kunjung dicairkan.
“Awalnya mereka (manajemen BMT-red) meminta waktu 1 bulan, untuk mencairkan simpanan kami. Kemudian, setelah kami demo, mereka meminta waktu kembali 3 bulan, hingga batas waktu tanggal 21 Juli kemarin, tidak ada tanda itikad baik dari mereka”, imbuhnya.
Para nasabah berharap, dengan adanya pendampingan dari LBH Adhyaksa, pengurus BMT bisa bertanggung jawab atas tabungan para nasabah.
“Kami meminta tolong LBH, agar uang kami cair. Kami serahkan ke LBH terkait langkahnya, baik upaya negoisasi maupun secara hukum”, pungkasnya.
Didik Pramono selalu ketua LBH Adhyaksa menyebutkan, pihaknya akan segera bergerak membantu para nasabah, setelah mendapat surat kuasa.
“Nanti kami akan segera berkirim surat ke dinas koperasi, Bupati, Polres dan Kesbangpolinmas. Jika diperlukan, kami akan melakukan aksi dengan menghadirkan seluruh nasabah beserta keluarganya”, ucapnya singkat. Kepada (Trie Tanpa Kucir) wartawan SCTV

