Oleh : Yudha Kerisna
Sulteng – SuaraMasyarakat.com // Dua hari terakhir, ada pertanyaan pamungkas selalu saya lontarkan kepada anak-anak selepas pulang sekolah. Pertanyaan sederhana, tapi cukup bikin mereka semangat bercerita: bagaimana pengalaman mengikuti program pemerintah berupa Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program baru digagas Pak Wowo ini memang masih dalam tahap uji coba. Tentu saja, kritik dan dukungan datang silih berganti dari masyarakat. Ada yang menyambut gembira, ada juga yang sinis, bahkan sampai menolaknya.
Namun, terlepas dari semua hiruk-pikuk itu, saya lebih suka memandangnya dari kacamata polos anak-anak. Mereka biasanya jujur saat bercerita, tanpa kepentingan apa pun.
“Gimana tadi makan gratisnya, Nang?” tanya saya ke Putra kami, Chris.
“Enak, Pak. Pake telor.” Kemarin Lauk Ayam Goreng, Buah Melon dan juga tahu campur buncis.
“Berarti habis lah itu (Lahap). Udah kenyang, kan?”
“Habis, Pak. Tapi belum kenyang.”
Saya maklum dengan jawaban itu. Soal belum kenyang kadang bukan berarti perut masih kosong, melainkan ada maksud lain. Ia berharap dapat tambahan uang jajan. Biasanya, kalau pulang sekolah, Chris memang suka bawa buah tangan ke rumah.
Program MBG ini memberi pengalaman tersendiri bagi anak-anak. Mereka bisa merasakan sensasi makan bareng yang mungkin jarang mereka alami sehari-hari.
“Saya jadi teringat masa kecil saya, saat sekolah dasar dulu. Makan bareng biasanya hanya terjadi menjelang pembagian rapor atau momen tertentu. Itu pun serunya bukan main, apalagi ketika teman-teman saling berbagi lauk,” kata Chris.
“Putri kami yang duduk di bangku SLTP Rantau Selatan juga bercerita dengan wajah sumringah. “Enak, Pak,” katanya singkat. Mendengar jawaban itu, saya pun ikut membayangkan betapa menyenangkan suasana makan bersama di sekolah pagi tadi.
Lantas, kenapa masih banyak yang menolak program peningkatan gizi ini? Ada yang menyebutnya pemborosan anggaran, rawan korupsi, penyelenggara belum siap, bahkan ada yang mengaitkannya dengan risiko keracunan.
Menurut saya, sah-sah saja. Semua orang berhak punya pendapat dan penilian berbeda.
Tapi dari lensa anak-anak, jelas terlihat bahwa mereka menikmatinya. Ada manfaat yang bisa dipetik: selain pengalaman makan bersama, mereka juga mendapat tambahan gizi, dan yang terpenting, tidak pulang sekolah dalam keadaan lapar.
Kondisi ekonomi tentu keluarga tentu berbeda-beda. Ada yang setiap hari bisa makan lauk lengkap di rumah, tapi ada juga yang harus menahan lapar karena tidak ada menu tersaji di meja makan. Di sinilah peran makan gratis terasa, sebagai jaring pengaman agar tidak ada anak sekolah yang belajar sambil menahan perut kosong.
Soal anggaran yang rawan dikorupsi?
Itu pun sah saja jadi kekhawatiran.
Tapi mari jujur sejenak. Adakah dana negara yang benar-benar steril dari incaran oknum? Bahkan dana kegiatan keagamaan saja bisa dipotong di sana-sini, apalagi dana program besar seperti ini.
Pertanyaannya kita putar balik, apakah karena takut dikorup lalu programnya dihentikan? Kalau begitu, apa pun tidak usah dijalankan. Padahal masalah utamanya bukan pada program, melainkan pada oknum yang bermain.
Kalau ada kekurangan dalam pelaksanaannya, bukan berarti program ini gagal. Justru tinggal diperbaiki saja. Misalnya, jika anggarannya terbatas, makan bergizi bisa dilaksanakan seminggu sekali atau menyesuaikan jadwal tertentu. Tidak harus setiap hari. Sederhana, kan?
“Bang, tapi berapa uang negara habis percuma untuk membiayai MBG?!” begitu sebagian orang masih mempertanyakan.
Menurut saya, tidak ada yang percuma. Bantuan itu nyata, hadir dalam bentuk makanan bergizi yang sampai ke tangan anak-anak. Mereka kenyang, mereka senang, dan mereka sehat.
Bukankah anak-anak ini adalah generasi penerus bangsa? Coba kita balik bertanya: apakah sebuah kerugian bangsa jika anak-anaknya sehat, kuat, dan pintar?
Ada juga yang bertanya: “Lalu dampak ekonominya apa, Bang?”
Saya bukan ekonom, tapi coba lihat dengan pendekatan sederhana. Menteri Keuangan yang baru, Purbaya Yudhi Sadewa, pernah mengatakan: uang negara tidak boleh berlama-lama mengendap di pusat. Harus diputar, harus turun ke bawah.
Nah, program MBG ini jelas ikut membantu perputaran ekonomi. Ada pembelian bahan makanan, ada tenaga masak yang dibayar, ada distribusi logistik. Itu semua membuka lapangan kerja baru, menggerakkan pasar, dan mendorong transaksi jual-beli di tingkat masyarakat. Efek gandanya luas.
Jadi, dari sisi gizi dapat, dari sisi ekonomi juga jalan.
Saya teringat ucapan Kang Dedi Mulyadi ketika menjawab kritik terhadap program barak militer untuk pelajar. Katanya, “Jangan urusi yang sudah sedang kami urusi. Lebih baik urusi yang di luar sana, kan masih banyak juga yang belum selesai.”
Saya rasa logika yang sama berlaku di sini. Program makan bergizi memang belum sempurna. Tapi lebih baik dijalankan sambil dibenahi, daripada hanya diperdebatkan tanpa pernah dimulai.
Bagi saya yang terpenting adalah wajah bahagia anak-anak ketika bercerita tentang makan bareng di sekolah. Dari sana, saya yakin program ini punya nilai lebih, bukan hanya soal nasi, lauk, atau telor, tapi tentang bagaimana negara hadir dalam kehidupan sehari-hari anak-anaknya.*






