SUARAMASYARAKAT.COM///Palembang, 24 Januari 2026 — Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si. menegaskan pentingnya nilai-nilai ketuhanan dan keumatan sebagai fondasi utama sekaligus filter dalam pelaksanaan pembangunan, penyelenggaraan pemerintahan, serta penyelesaian persoalan kemasyarakatan.
Penegasan tersebut disampaikan Ratu Dewa saat menghadiri Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat (MUTU) Se-Sumatera yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUII) di Palembang, 24–25 Januari 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Memperkuat Eksistensi Ulama dan Tokoh Umat untuk Memandu Rakyat agar Memilih Pemimpin yang Beriman dan Berakhlak Mulia.”
Menurut Ratu Dewa, keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga dari kuatnya nilai keimanan, akhlak, serta persatuan umat. Nilai spiritual dan moral harus menjadi rujukan agar setiap kebijakan pemerintah tetap berada pada koridor amanah dan berpihak kepada rakyat.
“Kita membutuhkan nilai-nilai keumatan dan nilai-nilai ketuhanan sebagai filterisasi dalam melaksanakan pembangunan dan menjalankan amanah pemerintahan, termasuk dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan,” ujar Ratu Dewa.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan ulama, serta mengapresiasi peran MPUII sebagai mitra strategis dalam menjaga toleransi, stabilitas sosial, dan persatuan umat.
“Di sinilah tempat berkumpulnya para tokoh ulama. Saya berharap forum ini melahirkan konsep-konsep keumatan dan sinergi, mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional,” ungkapnya.
Terkait kesejahteraan marbot masjid, Ratu Dewa menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Palembang terus memberikan perhatian melalui program insentif. Pada tahun sebelumnya, sekitar 500 marbot telah menerima bantuan, dan pada tahun ini jumlah penerima akan kembali ditambah.
“Sekitar 500 marbot sudah menerima insentif. Tahun ini akan kita tambah lagi sebagai bentuk perhatian pemerintah,” tutupnya.
Forum MUTU Se-Sumatera juga menjadi ajang silaturahmi dan dialog kebangsaan para ulama serta tokoh umat Islam dari berbagai daerah. Para peserta menekankan pentingnya memperkuat persatuan umat di tengah tantangan nasional dan global yang semakin kompleks.
Sekretaris Jenderal MPUII Prof. Daniel Mohammad Rasyid menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh mudah terpecah belah di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan kebangsaan.
“Umat Islam harus menjadi unsur perekat bangsa. Ketika Presiden mengambil manuver kebijakan, umat Islam harus membersamai dengan tenang agar kapal besar bangsa ini tidak terguling,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan Palembang sebagai lokasi MUTU juga berkaitan dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Menurutnya, umat Islam harus lebih siap, kompak, dan tidak mudah diadu domba dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana MUTU Se-Sumatera Drs. H. Umar Said menyampaikan harapan agar MPUII mampu menjadi pemandu umat hingga ke tingkat akar rumput, sekaligus menyalurkan aspirasi umat kepada para pemimpin.
Sekretaris Panitia Afdhal Azmi Jambak, SH menegaskan bahwa MPUII tidak hanya bergerak pada tataran wacana, tetapi juga aksi nyata, khususnya dalam penanganan bencana.
“Saat terjadi bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, hingga Banten, MPUII hadir memberikan bantuan. Kami ingin umat Islam memahami hak dan perannya, tidak hanya menjadi penonton,” ujarnya.
Afdhal juga mengapresiasi kebijakan Wali Kota Palembang yang dinilai berpihak pada nilai-nilai keumatan, salah satunya larangan kegiatan hura-hura pada malam Tahun Baru.
“Kami mengapresiasi kebijakan Pak Wali Kota yang sejalan dengan nilai moral dan keagamaan. Kami berharap sinergi seperti ini terbangun dengan seluruh pemerintah daerah,” pungkasnya.
Kegiatan MUTU Se-Sumatera dihadiri oleh tokoh dan perwakilan umat Islam dari berbagai provinsi, antara lain Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat, Lampung, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.



