Konflik Agraria di Banyuasin Dugaan Sertifikat Hak Milik Fiktif Memicu Kekhawatiran

- Redaksi

Minggu, 20 Juli 2025 - 08:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Banyuasin.-suaramayarakat.com.// Sebuah investigasi wartawan telah membongkar indikasi kuat terbitnya Sertifikat Hak Milik (SHM) fiktif di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kasus ini telah memicu konflik agraria berkepanjangan di wilayah Sungai Nipah Kuning dan Gulang-gulang, Desa Pangkalan Benteng, Kecamatan Talang Kelapa.

 

Dokumen SHM 2008 yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banyuasin menjadi dasar klaim oleh sebuah perusahaan, namun sejumlah nama warga dari Desa Gasing Laut yang tercantum dalam dokumen tersebut membantah dengan tegas keterlibatan mereka.

 

Konflik agraria ini telah berlangsung sejak 2009 dan kembali mencuat ke publik pada 2022 hingga 2023. Meskipun telah dilakukan mediasi dan turunnya surat dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg RI) serta Tim Satgas Mafia Tanah oleh Mabes Polri, konflik belum juga menemui titik terang.

Baca Juga :  Massa PPAMI Desak Pecat Oknum JPU Kejari Palembang, Diduga Rekayasa Kasus Penganiayaan

 

Proses penyelesaian kasus terkesan tidak transparan, dengan fakta-fakta penting yang kerap tertutup. Pihak perusahaan yang disebut-sebut sebagai PT SCR atau David Dinamianto dkk terus beraktivitas ekonomi tanpa menggubris polemik yang terjadi, sementara masyarakat lokal merasa teraniaya dan diintimidasi.

 

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sumatera Selatan telah mengeluarkan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa sebelum ada putusan pengadilan yang final, belum ada pihak yang dinyatakan selaku pemilik sah dari lahan yang disengketakan.

Baca Juga :  Samsat Parimo UPT Dispenda Sulteng Sosialisasi Ini

 

Pemerintah pusat dan aparat penegak hukum didesak segera meninjau ulang secara menyeluruh dan transparan.

 

Jika dibiarkan, kasus ini dapat menjadi preseden buruk yang memperkuat praktik mafia tanah sekaligus menggerus kepercayaan publik terhadap sistem pertanahan nasional.

 

Hingga berita ini ditayangkan, pihak BPN Banyuasin belum memberikan keterangan resmi.

 

Kasus ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menyelesaikan konflik agraria yang berkepanjangan dan memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.

Team / Boy.MN

Berita Terkait

PLN UP3 Tolitoli Sebut Program Listrik Desa Masuk Kewenangan UP2K, Sejumlah Wilayah Masih Menanti Jaringan
Jumat Keliling Polres Tolitoli, Kapolres Tampung Aspirasi Masyarakat
Tanpa Papan Proyek dan Pengawas, Pembangunan Talud di Jalan Raya Belimbing Kuranji Tersorot Publik
Berbagi di Hari Sumpah Pemuda, Aksi BMK Kosgoro Maluku Hadirkan Senyum Warga Ambon
Polda Sumsel Tangani 63 Perkara Karhutla, 54 Orang Jadi Tersangka
Pengawas SPBU Tolitoli Utara Sebut Penyaluran Pertalite Subsidi Berjalan Lancar
Dua Proyek Renovasi di BKKBN Pati Jadi Sorotan, Satu Proyek Tanpa Papan Informasi Dihentikan, Karena Pembesian Diduga Tak Sesuai Spek
Aktivitas Pelayaran Mulai Berjalan di Pelabuhan Leok, Kapal Kargo Angkut Semen dan Kopra
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:35 WIB

PLN UP3 Tolitoli Sebut Program Listrik Desa Masuk Kewenangan UP2K, Sejumlah Wilayah Masih Menanti Jaringan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:29 WIB

Jumat Keliling Polres Tolitoli, Kapolres Tampung Aspirasi Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Tanpa Papan Proyek dan Pengawas, Pembangunan Talud di Jalan Raya Belimbing Kuranji Tersorot Publik

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Berbagi di Hari Sumpah Pemuda, Aksi BMK Kosgoro Maluku Hadirkan Senyum Warga Ambon

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Polda Sumsel Tangani 63 Perkara Karhutla, 54 Orang Jadi Tersangka

Berita Terbaru