Mayoritas Fraksi Menolak, Gerindra-Hanura Malah Buka Ruang bagi Tambang Gamping di Bangkep

- Redaksi

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

Oplus_16908288

Bangkep, Sulteng – suaramasyarakat.com // Rencana investasi pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah (Sulteng) munculkan perbedaan sikap tajam di tubuh dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) kabupaten setempat.

Lima dari enam fraksi menyatakan penolakan, sementara Fraksi Gerakan Nurani Rakyat yakni gabungan Partai Gerindra dan Hanura, memilih tidak ikut menolak dan tetap membuka ruang pembahasan terhadap investasi tersebut.

Perbedaan sikap itu mengemuka dalam rapat paripurna DPRD Kabupaten Banggai Kepulauan pada Kamis, 16 Juli 2026.

Mayoritas fraksi menilai aktivitas pertambangan berpotensi mengancam lingkungan, bentang alam karst, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat di Pulau Peling.

Lima fraksi yang menyatakan penolakan adalah Fraksi Kebangkitan Kesejahteraan Solidaritas, Fraksi Golkar Bintang Persatuan, Fraksi Demokrat, Fraksi PDI Perjuangan, dan Fraksi NasDem.

Di tengah barisan penolakan tersebut, Gerindra-Hanura mengambil posisi berbeda. Fraksi ini memilih abstain dan meminta agar DPRD tidak terburu-buru menolak rencana investasi pertambangan batu gamping.

Juru bicara Fraksi Gerakan Nurani Rakyat, Badrin Liato, menyampaikan bahwa fraksinya belum memberikan keputusan final terkait rencana investasi tersebut.

Fraksi Gerindra-Hanura meminta lembaga DPRD terlebih dahulu melakukan kajian yang lebih luas sebelum mengambil keputusan politik.

Menurutnya, kajian itu dinilai perlu mencakup aspek lingkungan, sosial, ekonomi, hukum, serta kewenangan pemerintah dalam proses perizinan pertambangan.

Sambungnya, sikap tersebut secara formal memang bukan pernyataan dukungan langsung terhadap tambang. Namun, keputusan untuk tidak ikut menolak membuat peluang investasi pertambangan batu gamping tetap terbuka.

Baca Juga :  Kasus Pencurian Mendominasi di Tolitoli, Reskrim Klaim Hampir Seluruh LP Tertangani

Dalam pandangan politik, posisi abstain Gerindra-Hanura menjadi signifikan karena seluruh fraksi lainnya telah memilih mengambil sikap penolakan.

Salah satu pertimbangan Gerindra-Hanura adalah perlunya verifikasi lebih lanjut terhadap status dan luasan kawasan karst di Banggai Kepulauan.

Fraksi tersebut menilai batu gamping sebagai jenis batuan perlu dibedakan dengan karst sebagai bentang alam yang terbentuk melalui proses pelarutan batuan gamping atau dolomit.

Karena itu, klaim yang menyebut hampir seluruh wilayah Banggai Kepulauan merupakan kawasan karst dinilai perlu didukung kajian ilmiah dan penetapan dari lembaga resmi yang berwenang.

Gerindra-Hanura juga meminta pemerintah daerah bersama DPRD melakukan pemetaan dan pengkajian ulang terhadap kawasan karst sebelum mengambil keputusan menyangkut rencana pertambangan.

Selain menyoroti persoalan karst, Fraksi Gerindra-Hanura meminta DPRD mendengar seluruh pihak yang berkepentingan.

Menurut fraksi tersebut, lembaga legislatif tidak hanya perlu mendengar kelompok masyarakat yang menolak tambang, tetapi juga kelompok yang menerima investasi, pemilik lahan, lembaga terkait, serta calon investor.

Calon investor dinilai perlu diberi kesempatan menjelaskan manfaat investasi yang ditawarkan, termasuk potensi penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi masyarakat, kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah, serta komitmen perlindungan lingkungan.

Fraksi Gerindra-Hanura juga mengusulkan pembentukan panitia kerja atau panitia khusus DPRD untuk mengkaji rencana investasi secara lebih mendalam.

Namun, usulan untuk terus melibatkan calon investor tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Gerindra-Hanura masih membuka pintu bagi kelanjutan proyek pertambangan batu gamping di Bangkep.

Baca Juga :  Banjir di Kabupaten Perlu Penanganan Serius, Dinas PUPR Sebut Anggaran Terbatas

Berbeda dengan Gerindra-Hanura, lima fraksi lainnya menyampaikan penolakan secara tegas karena mempertimbangkan risiko kerusakan lingkungan.

Aktivitas pertambangan batu gamping dikhawatirkan dapat merusak bentang alam karst, mengganggu sumber air, mengancam ekosistem, serta mempersempit ruang hidup masyarakat.

Mayoritas fraksi menilai keuntungan ekonomi jangka pendek tidak boleh mengorbankan keberlanjutan Banggai Kepulauan dalam jangka panjang.

Pemerintah daerah juga didorong untuk memaksimalkan sektor ekonomi yang dinilai lebih berkelanjutan, seperti perikanan, pertanian, perkebunan, dan pariwisata.

Sektor-sektor tersebut dianggap lebih sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan dan tidak menimbulkan risiko ekologis sebesar industri pertambangan.

Posisi Gerindra-Hanura kini menjadi perhatian karena menjadi satu-satunya fraksi yang tidak menyatakan penolakan terhadap rencana tambang gamping.

Dalam penyampaian resmi fraksi, Gerindra-Hanura menyebut sikapnya sebagai abstain. Namun, pada kesimpulan rapat, Ketua DPRD Banggai Kepulauan disebut menyampaikan bahwa lima fraksi menolak, sedangkan Fraksi Gerindra menerima investasi.

Perbedaan keterangan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

Publik berhak mengetahui secara tegas apakah Gerindra-Hanura sekadar menunggu kajian lanjutan atau telah mengambil posisi politik untuk memberikan ruang kepada investasi pertambangan.

Yang jelas, ketika mayoritas fraksi DPRD telah berdiri dalam barisan penolakan, Gerindra-Hanura memilih tetap mempertahankan pembahasan tambang gamping sebagai salah satu opsi pembangunan di Banggai Kepulauan.*

Yudha

Berita Terkait

Pimpin Upacara Sumpah Pemuda, Kapolres Aceh Timur Tegaskan Sebagai Pemuda Harus Gigih dan Berkarakter
Satgas PRR Kemendagri Laksanakan Monitoring Penanganan Pascabencana di Kota Langsa
Pelayanan SKCK Polres Tolitoli Disorot, Sikap Kasat Intelkam terhadap Media Dikeluhkan
Transaksi Nasabah BRI Diduga Bermasalah, Pihak Cabang Tolitoli Diminta Berikan Penjelasan Resmi
Wakapolres Tolitoli: Pencegahan Karhutla Jadi Perhatian, Penambahan Mobil Patroli Diusulkan
Kasus Pencurian Mendominasi di Tolitoli, Reskrim Klaim Hampir Seluruh LP Tertangani
Operasi Patuh Tinombala 2026 di Tolitoli Berjalan Lancar, Masyarakat Diimbau Tertib Berlalu Lintas
PLN UP3 Tolitoli Sebut Program Listrik Desa Masuk Kewenangan UP2K, Sejumlah Wilayah Masih Menanti Jaringan
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:15 WIB

Pimpin Upacara Sumpah Pemuda, Kapolres Aceh Timur Tegaskan Sebagai Pemuda Harus Gigih dan Berkarakter

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:12 WIB

Satgas PRR Kemendagri Laksanakan Monitoring Penanganan Pascabencana di Kota Langsa

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Transaksi Nasabah BRI Diduga Bermasalah, Pihak Cabang Tolitoli Diminta Berikan Penjelasan Resmi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:55 WIB

Wakapolres Tolitoli: Pencegahan Karhutla Jadi Perhatian, Penambahan Mobil Patroli Diusulkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Kasus Pencurian Mendominasi di Tolitoli, Reskrim Klaim Hampir Seluruh LP Tertangani

Berita Terbaru