SUARAMASYARAKAT.COM//Pekalongan,Sebuah komentar mengenai dugaan pungutan liar (pungli) di SMPN 3 Wonokerto Kabupaten Pekalongan sempat viral di media sosial dan memicu berbagai spekulasi di kalangan masyarakat. Kepala Sekolah SMPN 3 Wonokerto angkat bicara memberikan klarifikasi resmi, menegaskan komitmen sekolah dalam melaksanakan pelayanan pendidikan yang transparan dan bebas pungli.
Ketika informasi di dunia maya menyebar dengan cepat, tak jarang membuat banyak orang bertanya-tanya, benar atau tidaknya. Tentunya, isu ini menimbulkan keresahan dan spekulasi di masyarakat, terutama para orang tua dan siswa yang sedang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Menyikapi hal ini, Kepala Sekolah tersebut memilih untuk tidak berdiam diri. Dalam sebuah wawancara ,Sabtu (3/1/2026) ia menyampaikan klarifikasi yang tidak hanya demi nama baik lembaga pendidikan, tetapi juga membuka ruang transparansi agar dugaan pungli ini tidak berlarut-larut menjadi isu yang merugikan banyak pihak.
Disampaikan oleh Kepala Sekolah SMPN 3 Wonokerto, Zamroni, memang benar ada rehab papan tulisan sekolah di tahun 2025 yang lalu, karena kondisinya sudah kurang baik dan perlu perbaikan
“Benar, ada rehab papan tulisan sekolahan, karena itu memang kelihatan sudah tidak layak dan kami kemudian berkeinginan berkomunikasi dengan komite dan orangtua wali murid. Dan itu pun sudah didiskusikan panjang lebar sesuai dengan peran komite dan wali murid. Orangtua wali murid bersama komite itu punya peran untuk membangun, menciptakan suasana sekolah yang nyaman sesuai dengan impian orangtua dan lingkungan masyarakat serta sekolah.
Salah satunya yaitu berinisiasi untuk kebersamaan supaya sekolah itu maju, kaitannya dengan peduli berbagi amal lalu kemudian peranserta aktif orangtua wali murid, itu kita diskusikan bersama,”terangnya
Lebih lanjut, Zamroni, menegaskan, “jadi munculnya nominal 230 ribu itu kalau misal dibagi memang seperti itu, tapi dari kami serta orangtua wali murid dan kemudian di komite itu bervariasi. Jadi otomatis hal yang muncul di medsos seperti itu tidak benar,” tegasnya
Ia, menandaskan, bahwa itu adalah “sumbangan sukarela” dan muncul inisiatif dari orangtua wali murid bersama komite dan kemudian sumbangan itu bervariatif, tidak di patok/ditentukan nominalnya sama sekali.
Ada yang 50 ribu, 75 ribu, bahkan ada juga yang 350 ribu waktu itu. Tentu kami bersyukur alhamdulillah, mudah-mudahan dengan kebersamaan ini sekolahan tambah maju sesuai dengan impian dan cita-cita menuju Indonesia emas,”tandasnya Kepala Sekolah
Ke depannya, diharapkan sekolah, orang tua, dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga iklim pendidikan yang sehat dan transparan. Dugaan seperti ini seyogianya menjadi momentum menguatkan komunikasi dan pengawasan yang efektif, sehingga pungli di dunia pendidikan bisa benar-benar diberantas.
D R

