SUARAMASYARAKAT.COM//BANYUMAS senin 15 desember 2025– Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menunjukkan bakatnya sebagai aktor drama politik terbaik abad ini. Bukan di panggung kesenian, melainkan di forum Rapat Koordinasi Persiapan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Kota Semarang, Senin (8/12/2025). Di hadapan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Sang Bupati berkeluh kesah mengenai dilema terbesarnya: Tambang di Gunung Slamet.
Isu dua titik tambang—di Baseh, Kedungbanteng dan Tapa, Baturaden—yang terus diprotes warga meski sudah mengantongi ‘restu’ alias izin, kini menjadi hantu yang mengejar tidur siang Bapak Bupati.
Sadewo dengan nada penuh keprihatinan (yang mungkin ia latih di depan cermin) menyebut, penambangan batu granit di Baseh, Kedungbanteng, masih menjadi sorotan publik.
Strategi ‘Tutup Sementara’ Anti-Lari
Dalam upayanya menjinakkan pegiat lingkungan sambil menjaga hati para penambang, Bupati Sadewo mengeluarkan jurus sakti yang patut diacungi jempol: Strategi Spanduk ‘Ditutup Sementara’.
“Kami dan ESDM Provinsi sudah memasang banner di situ ‘ditutup sementara’, jujur atas usulan saya,” aku Sadewo dengan bangga.
Alasan di balik kejujuran yang mengharukan ini sungguh pragmatis. Sadewo khawatir jika tambang langsung ditutup permanen, para penambang akan “lari” atau kabur.
Tampaknya, bagi Bapak Bupati, penambang ini adalah aset berharga yang harus dijaga dari ‘keterkejutan’ penutupan permanen, bukan pelaku aktivitas yang merusak lingkungan. Strategi ini sukses menciptakan situasi win-win: Warga senang karena ada spanduk penutupan, sementara penambang tahu itu hanya ‘tutup sementara’—seperti jeda iklan sebelum sesi pengerukan berlanjut.
Publik kini bertanya-tanya, apakah gunung yang seharusnya menjadi ikon keindahan dan sumber kehidupan di Banyumas ini akan terus diombang-ambingkan oleh dilema antara surat izin legalitas dan kelestarian alam?
Strategi ‘tutup sementara’ ini membuktikan bahwa di Banyumas, mengatasi protes lingkungan bisa diselesaikan dengan selembar spanduk, asalkan pesannya cukup ambigu. Selamat berlibur, dan semoga Gunung Slamet tetap tegak menghadapi “kearifan lokal” yang satu ini.

